Bukan Hujan Bulan Juni

Hujan di bulan Februari yang kutahu berbeda dengan bulan – bulan yang lain. Hujan bulan februari hanya ada di bulan ini saja, bulan kedua masehi. Hujan kedua ini seperti biasanya, berangin, kencang dan membuat basah. Tetes hujan di bulan ini lama, tidak begitu deras tak tampak nyata tapi konsisten, lama, seperti layaknya aku yang peduli padamu. Sebagaimana yang kamu tahu, tak tampak, yang jelas di matamu aku tidak pernah ada, lama monoton dan berujung membosankan. Tapi tak apa, hujan bulan februari tak begitu memedulikan pandanganmu itu, yang aku tahu pasti, hujan kedua ini membasahi seluruh penjuru dan meresap lebih dalam.

Hujan kedua ini bersama dengan angin yang cukup kencang. Sangat tak jarang hujan ini akan membuat air tergenang cukup tinggi dan di atas rata – rata di beberapa kota besar. Sejumlah acara yang sudah direncanakan harus mundur pelaksanaannya bahkan dibatalkan karena beberapa alasan. Dan hujan bulan kedua ini bukanlah masalah utama. Lalu, tak sedikit orang yang kemudian menghujat hujan di bulan februari ini. Tapi, aku tahu hujan ini tak memedulikan banyaknya gunjingan tentangnya itu. Aku tahu bahwa misinya telah berhasil dengan terhamparnya titipan rahmat Tuhan di muka bumi dan menghantarkan lantunan doa pada Tuhan. Dan sepengetahuanku, masih banyak yang menikmati hujan dan melantunkan doa disetiap tetesnya yang dihujat.

Dan aku tahu benar, kalau hujan bulan ini begitu peduli pada ciptaan Tuhan di muka bumi. Aku harap aku sedikit bersanding dengan hujan ini akan peduli ku padamu, meski yang pasti kutahu benar, kau tak tahu itu.

Hujan bulan februari indah.

Di antara hujan bulan februari ini, kamu begitu indah. Sebagaimana itu tampak pada setiap bulan – bulan yang kulewati. Dan berbeda dengan mu. Kamu terbawa pandangan umum tentang hujan bulan februari. Kamu mengasingkanku sebagaimana orang – orang merasa terasing karena hujan februari. Di matamu aku tak lebih dari orang yang hanya bisa membanjiri diam dengan menggenangnya kesedihan. Bahkan untuk sedikit menghadirkan rupamu dihadapanku pun suatu keharaman. Suaramu dari ujung sana hanya dititipkan melalui operator provider jaringan, setelahnya tidak akan bisa dihubungi.

Sebagaimana kamu tahu, aku layaknya hujan di bulan februari yang kamu tahu, tak banyak diharapkan olehmu. Dan aku tak begitu peduli dengan itu, melainkan padamu. Banyak orang yang melontarkan hujatan saat hujan turun di bulan ini, pun mengucap syukur setelahnya dan tiba – tiba amnesia dengan hujatan akan hujan bulan februari. Dan aku berharap kamu bisa mengerti dengan apa yang kamu tidak tahu tentang aku. Tapi kamu tidak perlu khawatir dengan itu, aku peduli sebagaimana hujan di bulan februari.

Dan saat ini hujan bulan kedua masih meneteskan rintik hujannya. Menemani aku yang duduk dengan beberapa carik kertas putih kosong tak bergaris dan sebuah pulpen pilot berwarna hitam yang belum sempat kubuka penutupnya. Menatap bahagia dengan sedikit senyum padamu yang juga demikian tepat berada di depanku. Manis, damai, indah seperti hujan bulan februari. Dan aku tahu kamu tahu semua itu. Terima kasih kamu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s