Ilmu Perjalanan, Masalalu dan Bahagia

Kamis itu lengang dengan rintik di jalanan yang mulai menutupi seluruh jalanan. Sepi karena malam memang sudah mulai menanggalkan keberanian orang-orang untuk beranjak dari kediamannya. Kini jalan ini menjadi miliknya sendiri. Jalan yang memiliki jalannya sendiri.

Dan malam itu hatiku lengang. Tak seperti jalan itu yang memiliki jalannya sendiri, jalanku sepertinya buntu. Ada jalan di ujung sana, setahuku. Tapi entah aku harus memulainya dari mana untuk ke ujung sana.

Malam itu obrolan denganmu terasa berbeda. Suasanannya sangat kaku tak seasik biasanya. Sepertinya masing-masing ingin mengakhiri obrolan ini saja, hanya saja memang tak pernah berhenti. Selalu keluar obrolan meski tidak senyaman biasanya memang.  Dan perbincanganku denganmu sempat berhenti cukup lama sebelum benar-benar berakhir.

Rencanaku sebelum obrolan denganmu malam itu, aku sedang mempersiapkan tiket perjalanan dari luar kota untuk bertemu denganmu. Berharap memberikan sedikit kejutan untukmu. Menemani akhir pekanmu yang kutahu selalu dibebani dengan rutinitas pekerjaanmu. Paling tidak aku bisa mengajakmu jalan pagi bersama menikmati matahari yang masih sipit di horizon timur dan beradu bubur ayam bersama. Mendengarkanmu saat bercerita tentang hari senin hingga jumatmu.

Setelah berakhirnya obrolan yang mendung namun tak turun hujan aku kembali ke pencarian tiket untuk perjalananku. Aku mengalihkan destinasiku ke tempat lain. Aku sepertinya akan membutuhkan ini akan kekakuan semalam. “Dan Bandung bagiku bukan masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi” kata Pidi Baiq. Aku akan kesana ketika (karena) sunyi.

Sebelumnya aku meluangkan untuk berjalan hingga 4 kilometer setelah perjalananku menggunakan shutle dari bandara di cengkareng. Ada taksi memang, gojek pun kurasa masih ada walaupun sudah jam setengah 4 pagi. Tapi kami memang sengaja meniatkan untuk berjalan kaki. Oh ya, aku bersama kawanku, Arda. Masjid raya bandung yang tepat di sekitaran menjadi tempat berlabuh berikutnya. Kami sejenak menumpang untuk melepas lelah dan mengistirahatkan mata sebelum diusir oleh petugas masjid. Mandi menjadi agenda utama di masjid raya.

Masalalu, Dikelabui atau Pembenaran.

Perjalanan dari alun-alun kota Bandung pun dilanjutkan, tulisan pidi baiq yang menempel pada dinding JPO (jembatan penyeberangan orang) tersebut berada di sekitar masjid raya bandung, di alun – alun kota Bandung. Kami naik damri arah leuwi panjang, setelah itu lanjut lagi arah Ledeng. Kalau dapat yang langsung ke Ledeng dari sana kusarankan naik itu. Ongkosnya akan hanya sekali bayar, lumayan. Kalau ingin cepat juga ada opsi taksi dan (g)ojek yang bisa leluasa.

Destinasi kami selanjutnya ke observatorium bosscha di Lembang. Dari Ledeng kami beralih ke angkot yang mengarah ke Lembang, bilang ke pengemudinya kalau ingin ke bosscha. Sekitar 20 menitan angkot sudah memberhentikan kami dengan kondisi jalan masih lengang,cukup pagi memang waktu kami berangkat. (FYI : jalan ke Lembang tidak begitu lebar dan saat weekend kepadatan disana sudah menjadi hal yang biasa) Dari tempat kami turun sudah siap para pengendara ojek yang siap mengantarkan pengunjung naik ke lokasi observatorium. Tak sampai sepuluh menit kami sudah sampai di pos registrasi. Registrasi terlebih dahulu baru bisa masuk sesuai arahan petugas.

(Start dari alun – alun Bandung : Damri dari alun-alum ke leuwi panjang 5 ribu, leuwi panjang-Ledeng 5ribu dari Ledeng ke Lembang [pangkalan ojek ke bosscha] 5 ribu, ojek ke bosscha 10 ribu uang pendaftaran 15 ribu, kunjungan untuk perorangan hanya hari Sabtu, hari minggu-senin libur, selasa-jumat untuk rombongan, kunjungan siang tanpa pengamatan dan kunjungan dengan pengamatan hanya pada malam hari s.d 8 p.m asalkan langit memungkinkan)

Bintang terdekat selain matahari yang kita lihat barusan adalah merupakan kondisi bintang 4 tahun yang lalu. Bintang yang lebih jauh akan lebih jauh lagi ke masa lalu dari yang dilihat sekarang secara langsung dari teleskop. Dan matahari yang tadi siang kita lihat pada pukul 5 sore adalah tampilan matahari 8 menit sebelumnya. Kita seperti hanya dihadapkan pada masa lalu setiap waktunya, ini sebuah pengelabuan atau memang pembenarannya seperti itu? Hahhaa

Perspektif dan Ukuran Bahagia

Setelah penjelasan di kupel dengan teleskop gandanya dan tampilan skema di ruang multimedia kami pun beranjak menjnggalkan bosscha. Kami turunnya jalan kaki saja. Dekat saja. Saat perjalanan kami bertemu dengan seorang ayah pesepeda dengan sepeda modifnya. Sepeda yang sudah dikustomisasi dengan penambahan tempat untuk duduk anak-anak. Ya, ayah ini bersepeda bersama anaknya yang nampak masih berumuran 4-5 tahunan. Dibelakangnya diikuti oleh sang istri yang juga bersepeda. 

“Wah adeknya ikut sepedaan juga mas?”

“Iya ini mas, udah biasa diajakin sepedaan dari kecil, hehe” jawab si ayah dengan riang sekali meski masih berusaha mengambil nafas dengan cepat, jalan ke bosscha tidaklah landai. Sang istri si ayah juga melontarkan senyumnya saat kami berbincang. 

Keren sekali keluarga ini. 

Dan mereka yang tadinya tidak berniat ke bosscha setelah sedikit berbincang bersama kami mereka tergiur untuk melihat bosscha terlebih dahulu. Dan kami pun melanjutkan perjalanan kami.

Seperti itu, perspektif bahagia bisa ditinjau dari sisi manapun. Dan ukuran kebahagian? Kuta tidak perlu belajar metrologi untuk tahu ukuran dari bahagia, kita semua secara default saat bersinggungan dengan dunia kehidupan nemiliki kemampuan untuk mengukur kebahagiaan. Dan setiap individu hidup memiliki perspektif dan ukurannya masing-masing akan arti bahagia./adp

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s