Mbak Ngajari Kamu Mbolos, Tapi

Tiga perempat. Karena yang satu itu hanya milik-Nya yang hanya satu.

Ketika masa berganti sementara musim pun beralih. Musim kemarau dan musim hujan tak lagi bisa dibedakan berdasarkan periode bulan seperti pelajaran sewaktu sekolah dasar (SD) dulu. Di bulan Maret kondisi sedang peralihan menuju kemarau, dengan intensitas hujan yang masih cukup tinggi. Tapi tak menghentikan minat dan niat rombongan kala itu untuk mendaki gunung. Gunung Prau di sekitaran Wonosobo, Jawa tengah.

Agenda melancong menyapa gunung yang sedikit terencana dan cukup banyak dadakan. Kami bersembilan dengan personil yang bisa ikut saja. Perjalanan yang ditempuh cukup jauh. Posisi start perjalanan dimulai dari kota Semarang yang akan dilanjutkan dengan perjalanan darat menggunakan sepeda motor menuju daerah Wonosobo. Karena bersembilan akan ada yang berkendara sendirian dari lima motor yang berangkat.
Berkumpulah rombongan yang bersembilan itu. Kami adalah Dias,Ius, Kun, Burhan, Andeng,Bima, Bela dan adik laki – lakinya, Fachri kalau tidak salah namanya. Rombongan kesembilanan dengan seorang srikandi yang memesona.

Hari itu aku lupa tepat harinya, tapi yang pasti hari kedua pendakian kami, saat kembali turun gunung itu adalah hari dimana adik laki-laki Bela akan ada ujian disekolahnya. Ya, anak laki – laki termuda di rombongan itu masih kelas 2 SMP dan akan mengikuti ujian tengah semester di sekolahnya. Hari dimana ia sedang melakukan perjalanan pulang dari pendakian pertamanya pada paku – paku bumi yang Tuhan ciptakan.

Bukan perkara yang instan dan juga tidak terlalu rumit untuk keberangkatan Fachri mengikuti pendakian pertamaya itu. Ajakan yang menggiurkan dari Kakak Srikandinya itu membebaskan tanggungan ujiannya esok hari. Terlebih Kakak yang begitu ngayom dan membanggakan adiknya ini meng-guaranted-kan dirinya untuk memberikan dukungan demi mendapatkan ijin dari orang tuanya, orang tua mereka berdua. Dengan beberpa pertimbangan, orang tua mereka mengijinkan Bela beserta adiknya Fachri yang akan mengikuti ujian, untuk mengkuti pendakian gunung Prau. Mengijinkan untuk membolos.

Kala itu merupakan pendakian pertamaku bersama Srikandi yang membawa serta adik laki – lakinya ini. Kami sampai dipuncak tengah malam karena posisi start kami sudah cukup larut. Tiga tenda kami siapkan. Dua tenda berisikan masing – masing 4 orang dan satu tenda untuk Srikandi.

Cahaya merah kekuning – kuningan sudah mulai nampak dan cukup menyilaukan mata untuk segera beranjak keluar dari dalam tenda. Bela, si Srikandi ini sudah segar berdiri tepat di depan tenda adik laki – lakinya. Dia membangunkan adiknya untuk menikmati mentari pagi yang masih malu – malu di bawah horizon di pendakian pertamanya. Dan tujuan sebenarnya, membangunkannya untuk segera melaksanakan solat subuh.

Mbak emang ngajari kamu mbolos ujian, mbolos sekolah, tapi Mbak gak ngajari kamu buat gak solat gara-gara naik gunung !, ujarnya pada adik laki – lakinya

Banyak memang orang yang terkadang melupakan apa yang seharusnya dilakukan dengan mengalasankan berbagai kondisi yang ada. Namun tak sedikit pula orang yang begitu sadar akan pelaksanaan kewajibannya terhadap Tuhan yang telah menciptakan paku – paku besar untuk mereka jalani hingga puncak tertingginya. Dan seperti itulah makna yang nantinya akan didapatkan dari setiap perjalanan bertafakur dengan alam semesta.

Lelaki paling muda dalam rombongan itu pun hanya terdiam dengan nasihat dari Kakak tercintanya. Sesegeranya pula Ia beranjak melakukan Tayamum untuk membersihkan diri dari hadast kecil dan melaksanakan solat subuhnya./ad

Advertisements

Tas Bersama Tujuan

Tas lama. Kantong menyerupai sesuatu yang bermacam – macam. Banyak warna, banyak tipe penuh motif dan tentunya banyak varian harga.  Apa si tas itu? Oh iya, dari mana orang Indonesia menyebutnya tas ya? Atau orang luar negeri sana call it bag? Kapan semua benda – benda yang eksis dan masih meroda dalam putaran dunia ini pertama kali dinamai? Siapa pula yang memeberi sebutan nama pada benda – benda yang ada disekitaran kita ini. Aih, siapa lah yang sampai harus menanyakan hal – hal seperti itu pula. Bahas yang lain saja.

Kembali ke seputaran tas. Dalam wikipedia, tas adalah suatu barang tertutup yang dapat dibawa bepergian. Barang. Tertutup. Dan mobile, dapat dibawa bepergian kemana saja. Barang tertutup yang bisa dibawa kemana saja ini biasanya dibawa dibelakang punggung, pada umumnya, means tas punggung. Namun ada pula yang membawanya hanya dicantolkan pada satu lengan, dijinjing begitu saja. Kita namakan tas jinjing saja lah dianggapnya. Ada pula disuatu daerah yang membawanya dengan dibebankan pada kepala mereka, tepatnya diatas jidat, tepat di ubun – ubun. Itu mungkin tas ubun – ubun :D. Doraemon saja membawa tasnya dengan memposisikannya berada di depan dadanya dan disebut kantong ajaib.

Kok malah membahas hal – hal sepele seperti tas? Mungkin jadi blog pertama yang membuang – buang kopi hitam panas untuk menemani malam yang akan berganti saat tibanya shift sang mentari. Ya, yang pertama adalah hal yang  baru dilakukan. Suatu ke-iyesan untuk jadi yang pertama. Kenapa? Karena dengan yang pertama kita bisa memunculkan yang kedua, ketiga hingga kelimaratus jutanya bahkan hingga kesisi keterbatasan yang tidak terbatasi.

Tas pertama yang kalian punya, yang kalian bawa kemana – mana itu seperti apa?

Tas warna abu – abu agak gelap. Itu tas yang pertama kali menempel di pundak dan punggung ku. Ya, jadi tas ini tas punggung. Tas itu terdapat dua pengait atau lengan yang akan dilewatkannya lengan melalui sisi dalamnya dan kemudian akan tersangkut pada pundak. Dengan dua pengait itulah memberi keseimbangan pembebanan yang merata pada kedua sisi pundak atau bahu.Tas ku dulu itu bukanlah tas dengan resletng-mode. Masih berupa ceklekan pengunci diujung penutup tas. Kedua lengan tadi dapat diatur panjang-pendeknya sesuai dengan kenyamanan dari penggunanya sendiri. Kemudian dilengkai dengan sebuah tali kolor untuk mengikat bagian tas paling atas sebelum nantinya tak nampak karena tutupnya.

Tas itulah yang pertama kali membawa kesan nyaman untuk bepergian. Kemanapun bepergian, akan selalu ada tas warna abu-abu agak hitam ini di punggungku. Dengan tas berada di punggung dan terkait pada bahu pada saat bepergian kemanapun. Tas yang selalu memberikan sinyal pada pikiran dan hati akan suatu tujuan. Dengan tas ini yang menemani dikala bepergian, mengingatkan aku dan memberikan sugesti bahwa akan ada selalu suatu tujuan dikala akan bepergian ke tempat lain. Sehingga tas ini mengingatkan bahwa dengan membawanya mengingatkan aku bahwa perjalanan itu bukanlah suatu kesia – siaan untuk kemanapun destinasinya. Dimanapun.

Tas memberikan ku nasihat dan menyentuh sensor dalam tubuh ini bahwa kemanapun, kapanpun, dimanapun, dan siapapun  memiliki tujuan masing – masing yang harus mereka penuhi sebagai suatu pertanggungjawaban akan dirinya sendiri.

Tas pertama ku mengingatkan ku akan adanya tujuan pada setia detik dan milidetik yang terlewat dalam menghabiskan waktu di dunia yang penuh tuju ini. Tegakan punggungmu,tegapkan dadamu, hentakkan kakimu, kuatkan bahumu dan bawalah tas itu kemanapun, tujuanmu akan dituju.

Brief Coffee

Day five.

Better to say that this is for Day Five, also means Day Four. Why? Because I miss the fourth day (again) in writing101 course of this month. I miss that day, the 4th. I’ve spent my time fully to the movie. That day was the preimere in presenting the new release movie on theatre. It ‘count’ as a Filosofi Kopi by the title. Means Philosophy of Coffee.
Filosofi Kopi was an Indonesian book’s adapted movie. The movie give a view on how huge cofee in Indonesia. How coffee means for this country. It’s talk when the coffee may influence everyone in many ways how it will be. The way of coffee that will give someone the answer on question of life that you bring aroud the word. Then you will find it from coffee. The way to enjoy the coffee, in pleasure with your hearth, how it will be when you just use your head to ‘feel’ the coffee.

Then the Day four pass by, nothing on my page.

Today, I’m here. Where? Absolutelly on the coffee shop. The movie influence my feet, that’s way I’m here with more of cups coffee accompany me by my lonelyness.
I am not good in laying on the cafe. Yes, I’m just like a silent person. Thats what I feel of my self. Then I order the coffee, offcourse. I don’t know more about the coffee, but I think this the time when I ‘push the start button’. A cup of ‘Kopi Tapas’ already on my own facing me. It taste (just) like a coffee. But thats good for the first impression by my tongue.
The night not just bring me here. When I finish with my cup,then I try to move for another cafe, the coffee shop. I’m trying the Indonesian one. I need to try a cup of Flores Bajawa coffee, but today was not the day. There was none space for that coffee, then I try another one, ‘Kopi Gayo’. This coffee come from one of the distric on my country. The city named Gayo, as the name of the coffee. Then I enjoy this night with ‘Gayo’ accompany me and this page was publish.

Salam writing101